Memaknai Idul Fitri Sesuai Petunjuk Al Qur’an Dengan Semangat Kebersamaan

  • Whatsapp

Tangerang, AMC.co.id –  Hj. Devy Sunny Putri S.Ikom. Bendahara DPC GWI Kota Tangerang/ Anggota Komnas Perlindungan Anak Indonesia Kota Tangerang

Idul Fitri adalah hari yang dinantikan umat Islam di seluruh dunia karena di hari inilah umat Islam bersuka cita dan bergembira merayakan kemenangan. Sebagai umat muslim, kita perlu mengetahui makna Idul Fitri menurut Al-Quran agar semangat hari kemenangan ini selalu terpatri dan memotivasi kita untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT

Ada beberapa ayat di dalam Al Qur’an yang membahas tentang hari kemenangan yang kemudian diartikan sebagai Idul Fitri. Ayat-ayat tersebut mengajak umat Islam untuk selalu menghayati makna Idul fitri sebagai Hari Kemenangan.

Adapun makna Idul Fitri menurut Al Quran berasal dari dua kata _”id”_ dan ” _al-fitri_ “. Secara bahasa, kata Id berasal dari kata aada–ya’uudu, yang artinya kembali. Hari raya disebut _”id”_ karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama.

Sedangkan kata “fitri” memiliki dua makna, yaitu _suci dan berbuka_ . Suci berarti bersih, bebas dari segala dosa, bebas dari cela, kesalahan, kejelekan, dan keburukan. Sedangkan fitri yang berarti berbuka berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ” Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW pergi (untuk sholat) pada hari Raya Idul fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya”

Sebagai umat Islam tidak seharusnya merayakan hari kemenangan ini dengan berlebihan. Makna Idul Fitri menurut Al Quran adalah membawa kebahagiaan dan kegembiraan, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 58, Allah berfirman:

” Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan “.

Makna Idul fitri menurut QS Yunus ayat 58 adalah hari ketika umat Islam di seluruh dunia berbahagia dan bergembira karena Allah sebab telah berhasil menyempurnakan ibadah dan memperoleh pahala puasa.

Selama bulan ramadhan hingga bulan syawal, seluruh karunia ditumpahkan oleh Allah SWT kepada umat islam. Diantaranya ada tujuh macam karunia tersebut, pertama, rahmat yang telah diturunkan pada putaran sepuluh pertama (al-‘asyr al awwal), kedua, maghfirah yaitu yang telah diturunkan pada putaran sepuluh kedua atau pertengahan (al-‘asyr al-ausath), _ketiga,_ pembebasan yaitu yang telah diturunkan pada putaran sepuluh terakhir (al-‘asyr al-awakhir).

Kemudian karunia yang keempat l, adalah lailatul qadar yang diturunkan pada malam-malam ganjil yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, kelima, zakat fitrah, yaitu yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrah manusia, keenam, adalah pahala puasa 6 hari pada bulan syawal, yakni nilainya setara dengan puasa satu tahun,
ketujuh, adalah halal bi halal yaitu saling bermaaf – maafan yang dapat menghapuskan dosa antar sesama.

Umat Islam, sekarang ini sedang memasuki babak baru, yakni babak kembali kepada yang suci atau fitrah.
Hakikat dari puasa ramadhan adalah terbentuknya muslim yang bertakwa.

Dalam Al Qur’an Surat Ali Imran, ayat 133 Allah menegaskan, bahwasannya diantara ciri – ciri manusia yang bertakwa itu diantaranya ada empat, yaitu:
Pertama, menginfakkan sebagian hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit
Kedua, orang yang mampu menguasai hawa nafsunya, yaitu orang-orang yang jika diberi cobaan oleh Allah tetap sabar dan tidak berkeluh kesah, Ketiga , mampu mengendalikan diri dan berlapang dada.
Keempat, orang – orang yang bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuatnya.

Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahim yang telah dibangun oleh orang tua kita dulu sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang bersedia berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis. Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga yang lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi.

Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia – manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya. Pengaruh IT dan perangkat media sosial lainnya, seperti handphone dan android juga mereduksi nilai silaturrahim yang tidak lagi face-to-face, tetapi sudah digantikan dengan face book dan aplikasi lainnya, termasuk pembelajaran di kelas dengan e-learning.

Semoga kita semua dapat Merayakan Idul Fitri ini dengan penuh kebahagian, kebersamaan dan persaudaraan dengan terus memupuk serta menjaga tali persatuan dan kesatuan di bumi nusantara yang kita cintai ini.

Kami atas nama Seluruh Jajaran Pengurus dan Anggota DPC GWI Kota Tangerang, Memohon Maaf Lahir Dan Bathin, Semoga kita semua mendapat Keridhoan dan Ampunan dari Allah SWT

*Taqqoballahu Minna wa Minkum , Shiyamana wa Shiyamakum*

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1445 H/ 2024 M , Mohon Maaf Lahir Dan Bathin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *